Kamis, 06 April 2017

Burung Maleo

 Macrocephalon maleo) adalah jenis burung yang hidup hanya di Pulau Sulawesi. Satwa ini merupakan satu dari tiga spesies burung Indonesia yang mendapat perhatian internasional karena keberadaannya yang terancam kepunahan. Dua burung lainnya adalah elang jawa (Spizaetus bartelsi) dan jalak bali (Leucopsar rothschildi).
Maleo (
Burung cantik dengan perut berwarna merah muda dan “topi” di kepalanya ini termasuk unik. Dulu, populasi maleo menyebar di hampir seluruh wilayah Pulau Sulawesi. Namun saat ini, burung endemik Sulawesi ini hanya hidup di beberapa tempat saja, dengan habitat yang terpisah-pisah.
Untuk ukuran tubuhnya, telur burung ini sangat basar, sekitar lima kali telur ayam. Yang paling aneh adalah kebiasaan bertelurnya. Maleo memiliki kebiasaan untuk bertelur di pasir atau tanah vulkanik yang memiliki panas alami di bawah tanah, dan di tambah dengan panas matahari. Cara ini menunjukkan bahwa telur tidak dierami oleh induknya, tapi menetas dengan bantuan panas dari alam.
Kebiasaan maleo untuk bertelur di tempat yang sama berulang kali membuatnya menjadi sasaran mudah bagi para penduduk yang mengambil telurnya untuk dimakan dan dijual. Pengambilan telur yang sudah berlangsung selama berabad-abad ini sebelumnya tidak membahayakan populasinya. Telur maleo memiliki fungsi yang sangat penting dalam adat setempat. Telur ini misalnya digunakan sebagai pembayar mas kawin atau bingkisan usaha. Karena populasi manusia bertambah, perburuan terhadap telur maleo meningkat dan akibatnya membahayakan bagi kelestarian burung ini.
Kondisi habitat aslinya juga menjadi penyebab langkanya burung ini. Adanya pemisahan berbagai habitat membuat lahan tempat bersarang secara alami terpisah dari hutan tempat maleo dewasa menghabiskan waktunya. Hal ini mengganggu proses perkembangbiakannya.
Pada 1985, saat ancaman terhadap keberadaan burung ini terlihat makin nyata, diresmikanlah proyek perlindungan dengan tujuan menyelamatkan beberapa kelompok sarang terbesar di Taman Nasional Bogani Wartabone, Sulawesi Utara.
Anjing liar dan biawak, juga manusia menjadi ancaman terbesar bagi kelestarian maleo di taman nasional ini. Untuk mengurangi pengaruh ancaman penetasan telur maka dibuatlah pagar yang rapat di sekitar tempat bersarang maleo agar proses penetasan telur tersebut tidak mendapat gangguan.
Secara hati-hati, telur digali dan ditimbun kembali. Dengan cara ini kesempatan untuk menetas menjadi jauh lebih besar. Anakan yang berhasil hidup pun sebelum dilepaskan diberi tanda sehingga dapat memberi keterangan tentang pergerakan hewan ini.

Rabu, 05 April 2017

Asem Garam Liburan di Lampung

27 Maret saya bersama 7 teman saya melakukan perjalanan ke daerah Kalianda,  lampung Selatan, tepatnya ke Gunung Rajabasa ( 1302 mdpl ) dan Pantai Ketang. Lelah, seru dan asyiknya terbungkus dalam paket asam garam perjalanan kami. inilah keseruan kami di nergri Sang bumi Ruwa Jurai.

Disambut oleh suasana malam Bakauheni, sehinggga menara Siger yang megah tidak nampak, apalagi pada saat itu kami dikerubuni orang orang yang menawarkan jasa travelnya. pada akhirnya kami memilih angkutan umum untuk mengantarkan kami ke Desa Sumu Kumbang, tempat dimana jalur terdekat menuju puncak Gunung Rajabasa. Kurang lebih jam 11 kami tiba di depan mesjid Al Ikhlas. Saya dan teman saya yang benama istu Joko Endarto mencari bantuan ke waga sekitar untuk menunjukan rumak kepala desa atau ketua RT untuk meminta izin pendakian. Alhasil kami di beri petunjuk untuk mengunjungi bace camp pendakian ke tempat bang bule. Rumah beliau ternya dekat dengan mesjid Al Ikhlas.

28 Maret kami memulai pejalanan menuju Pos I sekitar jam 9.30 WIB. Bang Medi atau akrab di sapa Bang bule mendampingi perjalanan kami menuju puncak. Karena kami memang baru mendaki gunung tersebut, ditambah lagi jalur menuju pos I sangat sukar di temukan karena banyak jalur para petani kopi.
Jalur yang bertembok dan perkebunan kopi milik warga itu selalu mendominasi setiap perjalanan kami. Bebatuan dan tanah juga sempat kami temui. Menanjak dan tiba tiba motor dari belakan dengan cepat dapat pula mengganggu asiknya perjalanan kami. apalagi jika tiba tiba ada motor yang mengangkut kelapa, terpaksa kami harus kelimpungan mencari celah di sisi jalan agar tidak terserempet motor.Setidaknya 2,5 jam jalan santai menuju Pos I telah kami lewati dan sesampainya di pos I kami beristirahat,
Sambil menunggu adzan Dhuhur beberapa diantara kami mempersiapkan pebekalan kami untuk nanti di pos5. kopi dan teh hangat menjadi teman asyik saat bercerita.Hingga tidak terasa kami di buru waktu. waktu sudah menujukan jam 1.00 dan waktunya kami berangkat menuju pos selanjutnya.
jalu menuju pos 2 sangat berbeda dengan jalur pos 1, karena jalunya langsung menanjak, meski pohon kopi masih mendominasinya. menanjak terus sampai kami basah kuyup oleh keringat. pemandangan pantai setidaknya menjadi tontonan asyik meski hanya di beberapa spot kami bisa melihatnya.
pos 2 cukup melelahkan, selain jalurnya yang menanjak tetapi sedikit lama atau panjang. butuh waktu 1,5jam untuk sampai di pos2.
Menuju pos 3 dan pos 4 memang jalurnya agak pendek akan tetapi kami harus terus menanjaki jalu apalagi semalam baru tuun huja,sehingga sedikit basah dan licin.akar akar d sepanjang jalur setidaknya membantu kami berpijak. tidak cukup sampai di situ dai pos 4 menuju pos 5 pun demikian. tetapi di jalur tersebut setidaknya kami menemukan jalur landai. 17.30 kamipun sampai do pos 5. Dari situ menuju puncak sudah sangat deka. hanya beberapa menit saja kita sudah bisa sampai.
sesampainya kami do pos 5 langsung mendirikan tenda, hal yang mengejutkan hujan besar turu di sela sela kami sedang membereskan tenda. Basah menjadi resiko pada saat itu karena tenda kami belum selesai kami dirikan. Hingga malampun hujan masih bergemericik, meski turunya tidak sebesar tadi sore tetapi membuat kami malas untuk kelua tenda. Usai makan kami langsung berbenah untuk beristirahat.

29 Maret Muncak dan turun Gunung lanjut ke pantai ketang
di sambut pagi dengan hujan akhirnya kami menunda waktu untuk pergi muncak. jam 8.00 hujan reda dan masakan pun telah terhidangkan di tenda. akhirnya sebelum muncak kami menikmati sarapan terlebih dahulu. jam 9.00 pas barulah kami pergi ke puncak Gunung rajabasa di ketinggian 1302 mdpl. tidak banyak yang kaminlakukan hanya befoto ria menandakan kami sudah mencapai puncak. kami bergegas pulang karena semua alat dan perlengkapan sudah kami bereskan.
Target kami mencapai pos 1 jam 1 agar kami bisa melanjutkan perjalanan kami ke pantai terdekat. alhasil kami bisa sampai pos 1 jam setengah 2. dan baru sampai di basecam sekiatr jam 15.30. setelah berpamitan kepada bang medi untukmelanjutkan pejalanan kami. Kami di jemput oleh angkot yang kemarin mengantakan kami.
Pantai ketang berjarak 6km dari Desa Sumu Kumbang. Setibanya di pantai kami langsung menceburkan diri di berenang menghamtam ombak yang datang. teriakan dan tertawa saat kami di hantam ombak menuju bibir pantai. Pantai Ketang ini memiliki batuan kaang di sisi laut sehingga kami tidak bebas berenang kesana kemai. tidak jaang saat kami di terjang ombak dan tebawa ke bibir pantai kami tersandung batu.
itulah asyiknya liburan singkat kami . dari asam kegaram.

Transportasi dan biaya
jakarat- merak 35.000
merak - bakauheni 13.000
bakauheni- Ds. Sumur Kumbang 20.000
biaya lesehan 10.000/orang
regitrasi pendakian 10.000
Ds. Sumur Kumbang-pantai Ketang - Pelabuhan Bakauheni 250.000/8 orang

Tips
1. Bawalah kartu tanda pengenal seperti KTP atau SIM karena sekaag pelabuhan Bakauheni memberlakukan Data sesuai KTP saat pembelian tiket
2. Sediakan makanan jadi  tau bawa perbekalan dari rumah untuk makan di kapal, karena makanan di kapal sedikit mahal
3. Jika anda dari organisasi atau mapala makan bawalah surat dari organisasi sebagai pengantar pendakian.
4. Sesampainya di pelabuhan bekauheni pilihlah langsung moda transportasi anda untuk mencapai langsung ke tujuan, kaena banyak calo yang menawarkan jasa travel yang akan mengikuti anda dan membuat anda tidak nyaman. berilah jawaban tegas kepada mereka.
selamat berlibur .............


pantai ketang

basecamp

Senin, 27 Februari 2017

prosedur masuk kawasan TNLL, Sulteng

PROSEDUR PERMOHONAN
SURAT IJIN MASUK KAWASAN KONSERVASI (SIMAKSI)
LINGKUP BALAI BESAR TAMAN NASIONAL LORE LINDU
A. Flowchart Prosedur Pembuatan SIMAKSI
B. Dasar Hukum :
Undang - undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan  Ekosistemnya
Undang - undang  No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam
Peraturan Pemerintah No.59 Tahun 1998 tentang tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan
Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa
Peraturan Pemerintah No. 8 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar
Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan
Keputusan Pemerintah Republik I ndonesia Nomor 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade in Endangerad Species (CITES) of Wild Fauna and Flora
Keputusan Republik Indonesia No. 100 tentang penelitian Bagi Penelitian Asing
Keputusan Menteri Kehutanan No. 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Pengambilan dan Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar
Peraturan Menteri Kehutanan No. P 13/ Menhut-II/2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kehutanan

C. SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi)
DEFENISI :
(Berdasarkan Peraturan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor : SK. 192/IV-Set/Ho/2006)
  1. Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli yang dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan
  2. Masuk kawasan pelestarian alam adalah perjalanan seseorang atau beberapa orang dari suatu tempat untuk memasuki kawasan pelestarian alam
  3. Izin masuk kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam dan taman buru atau SIMAKSI adalah izin yang diberikan oleh pejabat yang berwenang kepada  pemohon untuk masuk kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam dan taman buru.
  4. Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi, data dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau tidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi:
  5. Pembuatan Film adalah proses pembuatan karya seni dan budaya yang merupakan media komunikasi masa pandang dengar yang dibuat berdasarkan azas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, video, piringan video dan atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektonik atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara yang dapat dipertunjukkan dan atau ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik dan atau lainnya (Video Klip, Film Dokumenter, Film Komersial dan Film Promosi);
  6. Pembuatan Foto adalah karya seni pengambilan gambar terhadap obyek tertentu melalui rekaman dalam klise dan diubah dalam bentuk gambar melalui proses kimiawi dengan tujuan untuk ditampilkan dalam khalayak ramai;
  7. Ekspedisi adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang perorang atau sekelompok orang ke suatu lokasi untuk misi atau tujuan tertentu (Rekreasi) ;
TAHAPAN:

  1. Pemohon SIMAKSI melapor kepada petugas penerima tamu kantor Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu.
  2. Pemohon  menghadap kepada Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan.
  3. Pemohon menjelaskan maksud dan tujuan masuk ke kawasan TN Lore Lindu.
  4. Pemohon akan dilayani petugas pelayanan SIMAKSI.
  5. Bagi warga negara asing untuk tujuan kegiatan:
A.    Penelitian, harus melampirkan persyaratan sebagai berikut:
  • Copy SIMAKSI dari Sekretaris Direktorat Jenderal PHKA;
  • Copy Proposal kegiatan;
  • Copy pasport;
  • Copy Surat pemberitahuan penelitian dari Direktorat Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen Dalam Negeri;
  • Surat pernyataan tidak merusak lingkungan serta kesediaan mematuhi perundang-undangan yang berlaku.
B.    Pembuatan Film dan atau Video Klip, harus melampirkan persyaratan sebagai berikut:
  • Copy SIMAKSI dari Sekretaris Direktorat Jenderal PHKA;
  • Copy Surat rekomendasi dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata;
  • Copy Sinopsis film akan dibuat;
  • Daftar perlatan yang akan digunakan;
  • Daftar crew;
  • Fotocopy pasport;
  • Surat pernyataan tidak merusak lingkungan serta kesediaan mematuhi perundang-undangan yang berlaku.
C.    Pembuatan Foto dan Ekspedisi, harus melampirkan persyaratan sebagai berikut :
Kelompok
  • Copy SIMAKSI dari Sekretaris Direktorat Jenderal PHKA;
  • Proposal kegiatan;
  • Copy pasport;
  • Daftar peralatan;
  • Surat pernyataan tidak merusak lingkungan serta kesediaan mematuhii perundang-undangan yang berlaku.
Perorangan
  • Rencana kegiatan;
  • Copy pasport;
  • Daftar peralatan;
  • Surat pernyataan tidak merusak lingkungan serta kesediaan mematuhii perundang-undangan yang berlaku.
D.    Rekreasi, harus melampirkan persayaratan sebagai berikut :
  • Copy pasport;
  • Daftar peralatan ;
Last Updated (Sunday, 14 December 2014 01:11)
http://www.lorelindu.info/index.php/penelitian/flowchart

Rhinoceros sondaicus

Gambar diambil dari http://houseofinfographics.com/

Hallo ill trying write new konten about concervation. Why there? because it's importan for each other for my earth. the first with Rhinoceros sondaicus. he is so limit and one and only in world. live in last in Taman Nasional Ujung Kulon and the population only 50th. so lets the security for go lifelong  in earth so we can see also.

this image give some infomation about Rhinoceros sondaicus, please read dan understand.
thank for ead my blogs. i need your correct, critics etc.
by dens


Kamis, 23 Februari 2017

Aku Pernah Ke Sulawesi Tengah



Tidak terbayangkan sebelumnya ternyata saya sempat berkunjung ke Negri Besi atau Celebes atau Sulawesi. Meski hanya di Sulawesi Tengah sekitar Kota Palu, Sigi, Donggala dan Poso, tapi cukup memberi arti dalam perjalanan hidupku. 4,5 bulan lamanya tinggal di pulau orang selalu terpatri setiap jalan yang penah ku singgahi.Teman baru, keluarga baru menjadi harta berharga. sayang waktu yang lama itu saya kuang banyak memanfaatkan waktu untuk terus berkunjung ke tempat yang indah, ketebatasan akomodasi dan peizinan yang terbelit menjadi alasan pada saat itu. kebosanan saat harus terkurung di tenda peleton yang panas, membuat penat hai hari yang kuhabiskan. tapi saat melakukan sebuah perjalana seolah inilah jiwa yang aku inginkan. betemu orang baru, tempat baru makanan baru dan pengalaman baru

beikut beberapa foto tesimpan dan memiliki kisah

1. Hutan di Kecamatan Lindu, Sigi
 Inilah kecamatan yang berada di ketinggian 1000 mdpl, untuk mencapai ke desa petama saja kita harus bejalan melewati hutan belantara, butuh waktu setidaknya 4 jam seandainya jalan kaki. Tapi bisa juga menggunakan kendaaan oda dua alias moto ojek dengan harga tegantung cuaca. 50.000 untuk cuaca yang cerah, seandainya semalam turun hujan maka tarifnya berubah menjadi 100.000. Kalau di rasa jalur tidak memungkinkan maka tukang ojek enggak mengantarkannya.

Foto di atas ketika kami sedang melakukan perjalanan atau penelitian ke hutan dan melihat pohon leda dan Ficus sp. yang besar yang berdiameter8 orang. Menutu tempat ini sangatlah tidak mudah karena d jalur saya terkena serbuk daun jelatang. Daun ini mengakibatkan gatal tapi sakit , efek dari itu hampir satu minggu masih akan berasa.

2. Pulang dai Tanjung karang, Donggala
Memang gila, ketanjung karang hanya untuk mengejar Sunset saja, setelah selesai berfoto langsung meninggalkan tempat. sebelum pulang kami sempat berfoto di dermaga kecil yang kebetulan ada sebuah kapal yang sedang berlabuh.



3. Danau Tambing, TNLL ( taman Nasional Lore Lindu) perbatasan Sigi-Poso
 Bermodalkan nekat dan harus beradu argumen dahulu baru kami bisa menuju tempat ini. Kami dianta oleh taksi atau mobil bak beratap melewati perkampungan dan hutan rimba. Ditengah perjalanan sopir berhenti sejenak memberi sajen di batu besar untuk meminta izin masuk kawasan. pegel rasanya duduk lama.

Di pinggiran danau kami mendirikan tenda, kebetulan sekali pada saat itu ada beberapa tenda yang tepasang, upanya tenda tesebut milik KPA Wanagaul yakni organisasi pencinta alam yang ada di kota palu. banyak berbincang bincang mengisi sore sempat kami mencicipi masakan dan ikut nimbrun makan besama mereka.

4. Perjalanan 8 hari melintasi napu Lintas Poso-Sigi
Bersama Anggota Taman Nasional kami diminta untuk tuut seta menjadi bagian dari kegiatan tesebut. Ploting dan pengumpulan data atau istilahnya inventarisasi flora fauna Taman Nasional Lore Lindu yang kaya akan biodeversitinya. Turun naik ketinggian, di guyu hujan seharian, jatuh dan terpeleset, melintasi sungai deras meupakan pengalaman yang tidak mudah dilupakan, bahkan kami harus terus di gigit oleh hewan lintah sepanjang pejalanan. Kami hanya tinggal mengikuti porter saja dari belakang dan melakukan pengamatan setelah kami menemukan Shelter. 

5. Jembatan Ponulele Kota Palu
Jembatan ini sering kali di lewati manakala kami akan berkunjung ke Tanjung karang, berada di jembatan ini ketika naik motor akan terasa nbergoyang karena anginnya sanagt kencang, jadi harus seimbang ketika membawa motor. tempat ini biasanya dijadikan tempat tongkrongan anak muda karena berada di teluk Talise. Dibangun pada tahun 2006.

itulah beberapa tempat yang sudah pernah saya singgahi. Sebenanya banyak tempat yang bagus yang penah saya kunjungi namun dokumentasi dan memori sedikit hilang karena kejadian ini sudah lama di tahun 2013.

saya sangat beterimakasih kepada Tuhan yang telah memberikan nikmat sehingga saya bsa menginjakan kaki di sini. Kelurga saya yang mendukungseta doa dan teman teman juga yang membei dukungannya. "semoga bisa kembali bekunjung dan bertemu saudara dan keluaga di sana"


Senin, 20 Februari 2017

Suatu Ketika Di Gunung Bunder



Foto Jusmawati Septia Rahmi.
Gunung Bunder meupakan area kemping yang berada di kaki Gunung Salak, Bogor. ada beberapa tempat menarik untuk kemping, salah satunya di area Curug Cihurang. Kebetulan pada saat pegantian malam tahun baru 2017 kami ber-9 mengadakan kemping ceria di sana. 
Berkumul di St. Bogor sebagai titik petemuan kami, di lanjut carter angkot menuju lokasi. butuh waktu lama untuk sampai lokasi sekitar 3jam lebih, kebetulan karena pada saat itu lagi ramai dan tekendala macet. Sempat mengalami  mogok akibat beban berat di jalan yang menanjak, alhasil kami turun dari mobil karena takut tejadi hal yang tidak diinginkan.

Aktivitas yang kami lakukan di sana selain tidur di tenda kami juga menyalakan api unggun, masak besama, makan besama dan mandi di Curug Cihurang. Cukup asyik dan menarik berkemah disini, selain suasana asrinya juga fasilitas yang di sediakan.

info biaya masuk

Retribusi untuk masyarakat sekitar 10.000
Biaya masuk area kemping 20.000 ( di sediakan kama mandi dan WC, di sediakan kayu untuk api unggun)

biaya tanspotasi
carter angkot menuju lokasi dari St. Bogor 250.000 sampai dengan 300.000.

beberapa potret kegiatan yang kami lakukan di Gunung Bunder 2016-2017
Foto Jusmawati Septia Rahmi.
masak bersama
mandi di Curug Cihurang
Foto Jusmawati Septia Rahmi.
api unggun dan bebincang bincang
Foto Jusmawati Septia Rahmi.
selfie di tenda
Foto Jusmawati Septia Rahmi.
makan bersama

  

Selasa, 27 Desember 2016

Setengah hari di Pulau Untung Jawa

    Perjalananku bersama teman kerja di mulai jam 10 pagi selepas sarapan, 20/12 menuju pelabuhan Tanjung Pasir, Banten. Disana kami bernegosiasi kepada pemilik kapal untuk mengantarkan kami ke Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu. Dari pernegosiasian harga yang alot akhirnya pukul 11.30 WIB kami di berangkatkan menuju pulau tersebut bersama 3awak kapal.

sensasi perjalanan menuju pulau 


   Sekitar 23 orang di tambah 3 awak kapal memenuhi kapal, dengan tenaga ekstra Suparman mendorong kapal dengan bambu ke tengah . Sementara Romi menarik tali jangkar yang tertancap di dasar laut dan di kemudi Doni mengarahkan kapal serta memajukan kapal menjauhi bibir pantai pelabuhan.

   Semakin jauh kami di bawa oleh kapal, ombakpun semakin mengganas. Kebetulam pada saat itu ombak lagi pasang. dengan kecepatan penuh perahu terus menerobos jeramnya ombak yang tinggi. Ayunan kapal setidaknya membuat hati kami was-was takut kapal terbalik. Semakin ketengah mendekati pembatas bambu ombak semakin brutal. Kami terus di jatuhkan tanpa ampun mana kala terjangan ombak menghantam kapal. Tidak jarang cipratan air masuk kedalam kapal bahkan membasahi kami. Teriakan kawan kawan saat di jatuhkan ombak besar menjadi hiburan pada saat itu. Tertawa dalam ketakutan selama 1 jam perjalanan akhirnya di sudahi. 

Selamat datang di Pulau Untung Jawa

   Jam 13.00 WIB kami tiba di dermaga Pulau Untung Jawa, kami di sambut warga sekita. salah satu dari mereka menghampiriku dan menawarkan paket makanan, tetapi saya tolak karena kami membawa bekal dari rumah. Selanjutnya tanpa basa basi kami langsung menuju mushola untuk melaksanakan sholat Dzuhur. setelahnya kami langsung mencari spot untuk bermain dan berenang. Pantai Sentigi menjadi tujuan kami. tetapi sebelumnya kami berkunjung dahulu ke kawasan Laguna mangrove yang tidak jauh dari Mushola. 

Bermain banana boat


   Di sebrang pantai Sentigi kami berenang, ombak yang sedang mengayun ayunkan tubuh kami. bahkan membaa kami kebibir pantai. Pada saat itu suasana lagi sepi hanya ada 4 pengunjung yang sedang mencoba banana boat . Lagi asyik berenang kami di hampiri oleh warga sana dan menawarkan permainan banana boat. Karena penasaran akhirnya kami mencoba permainan tersebut.
sebenarnya kami di tawari paket permainan yakni banana, donat dan persegi dengan harga Rp 75.000 namun kami menolak dan hanya memilih banana boat saja. 

   Satu banana bisa di isi oleh 7 orang. beramai ramai kami menaikinya. untuk mencapainya kami harus susah payah dan bergantian agar banan tersebut tidak terbalik. Persiapan sudah di mulai, posisi duduk dan pegangan sudah kami pegang. intruksi dari bang Romi menjadi perhatian kami, dan kapal yang menarik banana tersebut melesat maju dengan tarikan penuh. Kami di bawanya ke tengah tengah setidaknya ombak ombak itu tersa mengayunkan kami dan tiba tiba saja bang romi mengintruksikan kami untuk bersiap siap melepaskan pegangan karena akan di belokan dan kami jatuh seketika. Setidaknya kami terkejut dengan itu, namun kami tetap tenang karena di badan kami terpasang pelampung.Tiga kali kami di jatuhkan, tak jarang air terminum dan masuk telinga. Bahkan saat dijatuhkan tertidih. Lelah dan puas kami di permainkan. merebah di pasir untuk beristirahat.

Setelah puas kami bermain pukul 14,30 kami bersiap pulang. 

Tentang Pulau untung Jawa

Pulau Untung Jawa memiliki luas 40,10 Ha dan berpenduduk 1.888 jiwa.






area Camp Ground








pantai Sentigi