Kamis, 06 April 2017

Burung Maleo

 Macrocephalon maleo) adalah jenis burung yang hidup hanya di Pulau Sulawesi. Satwa ini merupakan satu dari tiga spesies burung Indonesia yang mendapat perhatian internasional karena keberadaannya yang terancam kepunahan. Dua burung lainnya adalah elang jawa (Spizaetus bartelsi) dan jalak bali (Leucopsar rothschildi).
Maleo (
Burung cantik dengan perut berwarna merah muda dan “topi” di kepalanya ini termasuk unik. Dulu, populasi maleo menyebar di hampir seluruh wilayah Pulau Sulawesi. Namun saat ini, burung endemik Sulawesi ini hanya hidup di beberapa tempat saja, dengan habitat yang terpisah-pisah.
Untuk ukuran tubuhnya, telur burung ini sangat basar, sekitar lima kali telur ayam. Yang paling aneh adalah kebiasaan bertelurnya. Maleo memiliki kebiasaan untuk bertelur di pasir atau tanah vulkanik yang memiliki panas alami di bawah tanah, dan di tambah dengan panas matahari. Cara ini menunjukkan bahwa telur tidak dierami oleh induknya, tapi menetas dengan bantuan panas dari alam.
Kebiasaan maleo untuk bertelur di tempat yang sama berulang kali membuatnya menjadi sasaran mudah bagi para penduduk yang mengambil telurnya untuk dimakan dan dijual. Pengambilan telur yang sudah berlangsung selama berabad-abad ini sebelumnya tidak membahayakan populasinya. Telur maleo memiliki fungsi yang sangat penting dalam adat setempat. Telur ini misalnya digunakan sebagai pembayar mas kawin atau bingkisan usaha. Karena populasi manusia bertambah, perburuan terhadap telur maleo meningkat dan akibatnya membahayakan bagi kelestarian burung ini.
Kondisi habitat aslinya juga menjadi penyebab langkanya burung ini. Adanya pemisahan berbagai habitat membuat lahan tempat bersarang secara alami terpisah dari hutan tempat maleo dewasa menghabiskan waktunya. Hal ini mengganggu proses perkembangbiakannya.
Pada 1985, saat ancaman terhadap keberadaan burung ini terlihat makin nyata, diresmikanlah proyek perlindungan dengan tujuan menyelamatkan beberapa kelompok sarang terbesar di Taman Nasional Bogani Wartabone, Sulawesi Utara.
Anjing liar dan biawak, juga manusia menjadi ancaman terbesar bagi kelestarian maleo di taman nasional ini. Untuk mengurangi pengaruh ancaman penetasan telur maka dibuatlah pagar yang rapat di sekitar tempat bersarang maleo agar proses penetasan telur tersebut tidak mendapat gangguan.
Secara hati-hati, telur digali dan ditimbun kembali. Dengan cara ini kesempatan untuk menetas menjadi jauh lebih besar. Anakan yang berhasil hidup pun sebelum dilepaskan diberi tanda sehingga dapat memberi keterangan tentang pergerakan hewan ini.

Rabu, 05 April 2017

Asem Garam Liburan di Lampung

27 Maret saya bersama 7 teman saya melakukan perjalanan ke daerah Kalianda,  lampung Selatan, tepatnya ke Gunung Rajabasa ( 1302 mdpl ) dan Pantai Ketang. Lelah, seru dan asyiknya terbungkus dalam paket asam garam perjalanan kami. inilah keseruan kami di nergri Sang bumi Ruwa Jurai.

Disambut oleh suasana malam Bakauheni, sehinggga menara Siger yang megah tidak nampak, apalagi pada saat itu kami dikerubuni orang orang yang menawarkan jasa travelnya. pada akhirnya kami memilih angkutan umum untuk mengantarkan kami ke Desa Sumu Kumbang, tempat dimana jalur terdekat menuju puncak Gunung Rajabasa. Kurang lebih jam 11 kami tiba di depan mesjid Al Ikhlas. Saya dan teman saya yang benama istu Joko Endarto mencari bantuan ke waga sekitar untuk menunjukan rumak kepala desa atau ketua RT untuk meminta izin pendakian. Alhasil kami di beri petunjuk untuk mengunjungi bace camp pendakian ke tempat bang bule. Rumah beliau ternya dekat dengan mesjid Al Ikhlas.

28 Maret kami memulai pejalanan menuju Pos I sekitar jam 9.30 WIB. Bang Medi atau akrab di sapa Bang bule mendampingi perjalanan kami menuju puncak. Karena kami memang baru mendaki gunung tersebut, ditambah lagi jalur menuju pos I sangat sukar di temukan karena banyak jalur para petani kopi.
Jalur yang bertembok dan perkebunan kopi milik warga itu selalu mendominasi setiap perjalanan kami. Bebatuan dan tanah juga sempat kami temui. Menanjak dan tiba tiba motor dari belakan dengan cepat dapat pula mengganggu asiknya perjalanan kami. apalagi jika tiba tiba ada motor yang mengangkut kelapa, terpaksa kami harus kelimpungan mencari celah di sisi jalan agar tidak terserempet motor.Setidaknya 2,5 jam jalan santai menuju Pos I telah kami lewati dan sesampainya di pos I kami beristirahat,
Sambil menunggu adzan Dhuhur beberapa diantara kami mempersiapkan pebekalan kami untuk nanti di pos5. kopi dan teh hangat menjadi teman asyik saat bercerita.Hingga tidak terasa kami di buru waktu. waktu sudah menujukan jam 1.00 dan waktunya kami berangkat menuju pos selanjutnya.
jalu menuju pos 2 sangat berbeda dengan jalur pos 1, karena jalunya langsung menanjak, meski pohon kopi masih mendominasinya. menanjak terus sampai kami basah kuyup oleh keringat. pemandangan pantai setidaknya menjadi tontonan asyik meski hanya di beberapa spot kami bisa melihatnya.
pos 2 cukup melelahkan, selain jalurnya yang menanjak tetapi sedikit lama atau panjang. butuh waktu 1,5jam untuk sampai di pos2.
Menuju pos 3 dan pos 4 memang jalurnya agak pendek akan tetapi kami harus terus menanjaki jalu apalagi semalam baru tuun huja,sehingga sedikit basah dan licin.akar akar d sepanjang jalur setidaknya membantu kami berpijak. tidak cukup sampai di situ dai pos 4 menuju pos 5 pun demikian. tetapi di jalur tersebut setidaknya kami menemukan jalur landai. 17.30 kamipun sampai do pos 5. Dari situ menuju puncak sudah sangat deka. hanya beberapa menit saja kita sudah bisa sampai.
sesampainya kami do pos 5 langsung mendirikan tenda, hal yang mengejutkan hujan besar turu di sela sela kami sedang membereskan tenda. Basah menjadi resiko pada saat itu karena tenda kami belum selesai kami dirikan. Hingga malampun hujan masih bergemericik, meski turunya tidak sebesar tadi sore tetapi membuat kami malas untuk kelua tenda. Usai makan kami langsung berbenah untuk beristirahat.

29 Maret Muncak dan turun Gunung lanjut ke pantai ketang
di sambut pagi dengan hujan akhirnya kami menunda waktu untuk pergi muncak. jam 8.00 hujan reda dan masakan pun telah terhidangkan di tenda. akhirnya sebelum muncak kami menikmati sarapan terlebih dahulu. jam 9.00 pas barulah kami pergi ke puncak Gunung rajabasa di ketinggian 1302 mdpl. tidak banyak yang kaminlakukan hanya befoto ria menandakan kami sudah mencapai puncak. kami bergegas pulang karena semua alat dan perlengkapan sudah kami bereskan.
Target kami mencapai pos 1 jam 1 agar kami bisa melanjutkan perjalanan kami ke pantai terdekat. alhasil kami bisa sampai pos 1 jam setengah 2. dan baru sampai di basecam sekiatr jam 15.30. setelah berpamitan kepada bang medi untukmelanjutkan pejalanan kami. Kami di jemput oleh angkot yang kemarin mengantakan kami.
Pantai ketang berjarak 6km dari Desa Sumu Kumbang. Setibanya di pantai kami langsung menceburkan diri di berenang menghamtam ombak yang datang. teriakan dan tertawa saat kami di hantam ombak menuju bibir pantai. Pantai Ketang ini memiliki batuan kaang di sisi laut sehingga kami tidak bebas berenang kesana kemai. tidak jaang saat kami di terjang ombak dan tebawa ke bibir pantai kami tersandung batu.
itulah asyiknya liburan singkat kami . dari asam kegaram.

Transportasi dan biaya
jakarat- merak 35.000
merak - bakauheni 13.000
bakauheni- Ds. Sumur Kumbang 20.000
biaya lesehan 10.000/orang
regitrasi pendakian 10.000
Ds. Sumur Kumbang-pantai Ketang - Pelabuhan Bakauheni 250.000/8 orang

Tips
1. Bawalah kartu tanda pengenal seperti KTP atau SIM karena sekaag pelabuhan Bakauheni memberlakukan Data sesuai KTP saat pembelian tiket
2. Sediakan makanan jadi  tau bawa perbekalan dari rumah untuk makan di kapal, karena makanan di kapal sedikit mahal
3. Jika anda dari organisasi atau mapala makan bawalah surat dari organisasi sebagai pengantar pendakian.
4. Sesampainya di pelabuhan bekauheni pilihlah langsung moda transportasi anda untuk mencapai langsung ke tujuan, kaena banyak calo yang menawarkan jasa travel yang akan mengikuti anda dan membuat anda tidak nyaman. berilah jawaban tegas kepada mereka.
selamat berlibur .............


pantai ketang

basecamp